SETIA TU BISA

July 29th, 2008 by ayid

Kesetiaan

by sight_cla10 on July 25, 2008

Kesunyian mengikuti langkah kaki sang malam

Setia menanti dari ujung senja hingga diperaduan

Meski berselimutkan kedinginan

Dengan diiringi hymne kesunyian

dan hanya bersandar pada rasi bintang

Kesunyian tetap menggenggam jemari sang malam

Dengan langkah perlahan menyusuri sungai kehidupan

Melewati lembah, singgah di puncak gunung

Terbawa angin kedesa-desa

Terseret ombak ketengah samudra

Kadang hujan gerimis menemani, bahkan hujan badai sekalipun

Hembusan topan mendorong kekota besar

Berbaur dengan hiruk pikuk kehidupan

Kesunyian tetap setia mendampingi sang malam

Meski ada saatnya kemesraan itu terganggu

oleh gemuruh halilintar

dan hingar bingar kota besar

Setianya kesunyian pada sang malam

tetap tak tergoyahkan

sight-cla10

Serpong, 11-01-’03

00.15 wib

Keabadian

by sight_cla10 on July 25, 2008

Kuresapi dan kunikmati sunyinya malam

Kurengkuh kegelapan dalam pelukan

Kurasakan hembusan nafasnya

Dan kucium harum aroma rambutnya

Aku pungut serpihan-serpihan bintang

Kutancapkan kedada bumi

Agar menjadi bunga kehidupan

Kureguk air suci keabadian

Dari sungai kehidupan yang dialirkan

Aku kumpulkan debu suci dari setiap perjalanan

Kugenggam dan kusatukan menjadi harapan

Yang sempat terkoyak duri tajam

Mengganggu langkah kaki disepanjang jalan

Kurangkai setiap kelopak bunga kehidupan

Menjadi untaian kalung keyakinan

Kusematkan didada dan kepala

Kusatukan kedalam nadi, mengalir bersama darah

Membalut tubuh dan jiwa

Membimbingku meresapi sunyinya malam

Menuntunku tuk memeluk kegelapan

Didalam mencari arti kehidupan.

sight-cla10

Sepong, 11 januari 2003

00.35 wib

Rembulan

by sight_cla10 on July 25, 2008

Kembali aku terbentur
Didinding kesunyian
Hanya bisikan angin malam
Singgah dan lewat di telinga

Lagi aku terjatuh
Ditikam gelora rindu
Menyeruak dari dalam kalbu
Menyumpah serapah pada waktu

Kuamati detak detik jarum jam
Sepertinya teramat lambat
Ingin kuputar dan kupacu
Jarak dan lari sang waktu

Meski terasa begitu lama
Aku kan selalu setia
Menanti rembulan yang kurindu
Menyinari ruang kalbuku.

sight.cla10

serpong, 12 Oktober 1999
19.35 wib.

Bercermin Diri

May 28th, 2008 by ayid

Bercermin Diri

Tatkala kudatangi sebuah cermin, tampaklah sosok yang sudah sangat lama kukenal dan sangat sering kulihat. Namun aneh, sesungguhnya aku belum mengenal siapa yang kulihat.

Tatkala kutatap wajah, hatiku bertanya : Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya dan bersinar indah di surga sana? Ataukah wajah ini yang hangus legam di neraka jahanam?

Tatkala kumetatap mata, nanar hatiku bertanya : Mata inikah yang akan menatap Allah, Rasulullah, dan kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang terbeliak, melotot, terburai menatap neraka jahanam? Apakah mata penuh maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata, apa gerangan yang kau tatap selama ini?

Tatkala kutatap mulut, apakah mulut ini yang kelak mendesah penuh kerinduan mengucap Laa Ilaaha Illallaah saat malaikat maut datang menjemput? Ataukah menjadi mulut yang menganga dengan lidah menjulur, dengan lengkingan jerit pilu yang akan mencopot sendi-sendi setiap yang mendengar? Ataukah mulut ini jadi pemakan buah zaqun jahanam yang getir, penghangus dan penghancur setiap usus? Apakah gerangan yang engkau ucapkan wahai mulut yang malang? Berapa banyak dusta yang engkau ucapkan? Berapa banyak hati yang remuk dengan sayatan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Berapa banyak kata-kata semanis madu yang palsu yang engkau ucapkan untuk menipu? Berapa sering engkau berkata jujur? Berapa langkanya engkau dengan syahdu memohon agar Allah mengampunimu?

Tatkala kutatap tubuhku, apakah tubuh ini yang kelak menyala penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkerama di surga? Ataukah tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih dalam lahar neraka jahanam, terpasung tanpa ampun, menderita yang tak akan pernah berakhir? Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang telah engkau lakukan? Barapa banyak orang-orang yang engkau zalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolongan yang engkau acuhkan tanpa peduli, padahal engkau mampu? Berapa banyak hak-hak yang engkau rampas?

Ketika kutatap hai tubuh, seperti apakah gerangan ini hatimu? Apakah ini hatimu sebagus kata-katamu, ataukah sekotor daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu, ataukah selemah daun-daun yang sudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu, ataukah sebusuk kotoran-kotoranmu?

Betapa beda… betapa beda apa yang tampak di cermin dengan apa yang tersembunyi. Aku telah tertipu oleh topeng yang selama ini tampak.
Betapa banyak pujian yang terhampar.hanyalah memuji topeng.
Sedangkan aku… hanyalah seonggok sampah yang terbungkus.
Aku tertipu… aku malu ya Allah.
Ya Allah… selamatkan aku…
Amin ya Rabbal ‘alamin

(karya : Aa Gym)